HARAM MENUKAR MAS DENGAN MAS

 

HARAM MENUKAR MAS DENGAN MAS

Sering terjadi dikalangan kita tukar menukar barang yang di haramkan, akan tetapi hal ini sudah menjadi hal biasa sehingga masyarakat lupa akan hukum yang berlaku. Tukar menukar barang yang haram hukumnya akan tetapi sering terjadi di masyarakat adalah tukar menukar mas yang lama dengan mas yang baru. Padahal sudah jelas hukumnya haram. Lalu mengapa bisa berhukum haram? Mari simak pembahasan berikut.

Apa hukum tukar-menukar emas yang sudah dipakai, dengan emas yang baru dengan ada kelebihannya?

Tidak boleh hal ini. Dia harus membeli emas yang baru tersendiri kemudian dia menjual emas yang lama atau yang jelek tersendiri seperti apa yang disabdakan Nabi tentang kurma, ketika Bilal berkata kepada beliau :

“Sesungguhnya kami membeli satu sha’ kurma bagus, ditukar dengan dua sha’ kurma jelek.”
Maka Beliau bersabda :

أوه أوه عين الربا، لا تفعل، بل بع بالدراهم ثم ابتع بالدراهم جديدًا.

“Aduh aduh, ini yang namanya riba, jangan kau lakukan! Akan tetapi jual-lah kurma yang ini dengan uang dirham, kemudian dirhamnya dipakai untuk membeli kurma yang baru.”
Muttafaq alaih.

Demikian juga pemilik emas yang jelek dengan emas yang bagus, hendaknya dia menjual emas yang jelek terlebih dulu, untuk mendapatkan uangnya. Lalu uang tersebut dipakai untuk membeli emas yang baru. Adapun menukar yang ini dengan yang itu dengan ada tambahannya, maka jangan.
Karena itu adalah menukar emas dengan emas yang lebih sedikit beratnya. Nabi bersabda :

“Menukar emas dengan emas harus sama-sama beratnya.’

Maka harus menjual emas dengan emas beratnya dan kadarnya harus sama-sama.

Lalu mengapa bisa diharamkan?

Karena dalam konteks ini terjadi RIBA, apa itu riba? suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar sesuatu barang yang tidak diketahui sama sekali menurut syarak, atau dalam tukar-menukar itu diayaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. 

Hukum melakukan riba adalah haram menurut Al-Qur’an, sunah dan ijmak menurut ulama. Keharaman riba terkait dengan sistem bunga dalam jual beli yang bersifat komersial. Di dalam melakukan transaksi atau jual beli, terdapat keuntungan atau bunga tinggi melibihi keumuman atau batas kewajaran, sehingga merugikan pihak-pihak tertentu.

 

Comments

Popular posts from this blog

HUKUM MENIKAH BEDA AGAMA DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM INDONESIA

SEPINTAS TENTANG FAKULTAS SYARIAH